Nasi0nalisme

23 05 2009

Nasionalisme adalah suatu paham yang menyatakan bahwa tujuan nya adalah menciptakan dan mempertahankan kedaulatan sebuah Negara apapun yang terjadi yang berlangsung dengan mewujudkan satu konsep identitas bersama untuk sekelompok manusia.
Sebenarnya Negara itu di anggap oleh para nasionalis adalah sebagai kumpulan dari beberapa “Kebenaran Politik ” (political legitimacy).Anggapan itu berasal dari gabungan dari 2 teori yaitu teori liberalisme yang menganggap kebenaran politik adalah bersumber dari kehendak rakyat,dan teori romantisme yaitu “identitas budaya”.
Ikatan nasionalisme itu terjadi saat manusia untuk tinggal di suatu daerah yang dianggap nya cocok dan tidak mau untuk beranjak dari situ , Saat itu naluri untuk mempertahankan diri sangat berperan dan mendorong mereka untuk mempertahankan negerinya(ikatan ini dapat memberikan kekuatan tambahan pada maklhuk yang akan mempertahankan negeri nya ), tempatnya hidup dan menggantungkan diri.dari situ lah muncul cikal bakal ikatan nasionalisme tersebut…
Ikatan itu pun terjadi pada dunia binatang pada saat ada ancaman dari pihak yang ingin menaklukkan atau menyerang daerah kekuasaan binatang tersebut ,maka binatang itu pun akan melawan nya apapun yang terjadi Namun, bila suasanya aman dari serangan musuh dan musuh itu terusir dari negeri itu, sirnalah kekuatan ini.
Dalam zaman modern ini, nasionalisme merujuk kepada amalan politik dan ketentaraan yang berlandaskan nasionalisme secara etnik serta keagamaan, Para ilmuwan politik biasanya menumpukan penyelidikan mereka kepada nasionalisme yang ekstrem seperti nasional sosialisme, pengasingan dan sebagainya.

ADAPUN MACAM-MACAM BENTUK DARI NASIONALISME :

Nasionalisme dapat menonjolkan dirinya sebagai sebagian paham negara atau gerakan (bukan negara) yang populer berdasarkan:
pendapat warganegara
etnis
budaya
– keagamaan
dan ideologi
Nasionalisme kewarganegaraan (atau nasionalisme sipil) adalah salah satu macam nasionalisme yang “Kebenaran Politik ” nya bersumber pada penyertaan aktif rakyatnya, “kehendak rakyat”; “perwakilan politik”. Teori ini mula-mula dibangun oleh Jean-Jacques Rousseau yang merupakan salah satu bahan-bahan tulisan buku-buku terkenal seperti buku berjudul Du Contract Sociale (atau dalam Bahasa Indonesia “Mengenai Kontrak Sosial”).

Nasionalisme etnis adalah salah satu macam nasionalisme yang “Kebenaran Politik ” nya bersumber pada budaya asal atau etnis sebuah masyarakat.yang di perkenalkan oleh Johann Gottfried von Herder, yang memperkenalkan konsep Volk (bahasa Jerman untuk “rakyat”).

Nasionalisme romantik (juga disebut nasionalisme organik, nasionalisme identitas) adalah salah satu macam nasionalisme yang merupakan lanjutan dari nasionalisme etnis. yang dimana “Kebenaran Politik ” nya berasal dari yang sejak semula sudah jadi (”organik”) hasil dari bangsa atau ras; menurut semangat romantisme. Dan yang bergantung pada perwujudan budaya etnis yang menepati idealisme romantic.

Nasionalisme Budaya adalah salah satu macam nasionalisme yang “Kebenaran Politik ” nya bersumber pada budaya bersama bukan dari sifat-sifat turunan seperti warna kulit, ras dan sebagainya. Contoh yang terbaik ialah rakyat Tionghoa yang menganggap negara adalah berdasarkan kepada budaya. Unsur ras telah dibelakangkan di mana golongan Manchu serta ras-ras minoritas lain masih dianggap sebagai rakyat negara Tiongkok. Kesediaan dinasti Qing untuk menggunakan adat istiadat Tionghoa membuktikan keutuhan budaya Tionghoa. Malah banyak rakyat Taiwan menganggap diri mereka nasionalis Tiongkok sebab persamaan budaya mereka tetapi menolak RRC karena pemerintahan RRT berpaham komunisme.

Nasionalisme agama adalah salah satu macam nasionalisme yang “Kebenaran Politik ” nya bersumber pada persamaan agama. Misalnya, di Irlandia semangat nasionalisme bersumber dari persamaan agama mereka yaitu Katolik; nasionalisme di India seperti yang diamalkan oleh pengikut partai BJP bersumber dari agama Hindu. Namun demikian, bagi kebanyakan kelompok nasionalis agama hanya merupakan simbol dan bukannya motivasi utama kelompok tersebut. Misalnya pada abad ke-18, nasionalisme Irlandia dipimpin oleh mereka yang menganut agama Protestan. Gerakan nasionalis di Irlandia bukannya berjuang untuk memartabatkan teologi semata-mata. Mereka berjuang untuk menegakkan paham yang bersangkut paut dengan Irlandia sebagai sebuah negara merdeka terutamanya budaya Irlandia. Justru itu, nasionalisme kerap dikaitkan dengan kebebasan.

Nasionalisme kenegaraan adalah salah satu macam nasionalisme yang merupakan variasi nasionalisme kewarganegaraan yang digabungkan dengan nasionalisme etnis . Penyelenggaraan sebuah ‘national state’ adalah suatu argumen yang ulung, seolah-olah membentuk kerajaan yang lebih baik dengan tersendiri. Contoh biasa ialah Nazisme, serta nasionalisme Turki kontemporer, dan dalam bentuk yang lebih kecil, Franquisme sayap-kanan di Spanyol, serta sikap ‘Jacobin’ terhadap unitaris dan golongan pemusat negeri Perancis, seperti juga nasionalisme masyarakat Belgia, yang secara ganas menentang demi mewujudkan hak kesetaraan (equal rights) dan lebih otonomi untuk golongan Fleming, dan nasionalis Basque atau Korsika. Secara sistematis, bila mana nasionalisme kenegaraan itu kuat, akan wujud tarikan yang berkonflik kepada kesetiaan masyarakat, dan terhadap wilayah, seperti nasionalisme Turki dan penindasan kejamnya terhadap nasionalisme Kurdi, pembangkangan di antara pemerintahan pusat yang kuat di Spanyol dan Perancis dengan nasionalisme Basque, Catalan, dan Corsica.

SEJARAH NASIONALISME

Rabindranath Tagore pernah menggambarkan sebuah keadaan ketika ”bangsa-bangsa yang saling ketakutan intai-mengintai seperti hewan buas di malam hari”. Dan penyair besar India itu pun bertanya, ”Haruskah kita bertekuk lutut kepada semangat nasionalisme, yang menebar-siarkan benih rasa takut, rakus, curiga… ke seluruh dunia?”

Tagore mengucapkan itu pada 1916, ketika sastrawan berbahasa Bengali yang mendapat penghargaan Nobel pada 1913 itu berkunjung ke Tokyo. Waktu dan tempatnya penting: kaum nasionalis Jepang sedang menghalalkan postur militer negerinya. Dalam hubungan itu bahkan Tagore secara tak sengaja mengecam pandangan yang tercantum dalam The Awakening of Japan, buku berbahasa Inggris yang terbit pada 1904, yang membenarkan penjajahan Jepang atas Korea: ”Korea terletak bagaikan sebilah keris yang selamanya terhunus ke jantung Jepang”.

Kalimat itu penting sebab bukan suara seorang militer. Ia ditulis seorang Okakura Tenshin. Okakura justru seperti Tagore: hidup dan menulis dalam lingkungan di mana seni dan pengalaman tentang keindahan diletakkan begitu pen-ting dalam hidup manusia. Kedua orang itu bahkan saling kenal, dan dalam arti tertentu, berteman.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: